文章
  • 文章
国际

印度尼西亚dorong konflik Suriah diselesaikan dengan jalur damai

2017年4月7日下午5点36分发布
2017年4月7日下午5:36更新

雅加达,印度尼西亚 - Pemerintah印度尼西亚mengaku prihatin dengan sikap militer sepihak yang ditempuh oleh Amerika Serikat untuk menyelesaikan konflik di Suriah。 Militer Negeri Paman Sam pada Jumat dini hari tadi meluncurkan 59 rudal Tomahawk ke arah pangkalan udara Suriah。

Berdasarkan laporan yang dikutip enam tentara militer rezim pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad tewas akibat serangan tersebut。 Serangan diperintahkan oleh Presiden Donald J. Trump yang menilai serangan gas kimia beracun terhadap warga di kota Khan Sheikhoum,Provinsi Idlib dilakukan oleh Assad。 Keyakinan itu diperoleh特朗普berdasarkan laporan intelijen。

Namun,bagi印度尼西亚perang bukanlah solusi dalam konflik di Suriah。 Oleh sebab itu,pemerintah menyerukan agar konflik ini diselesaikan dengan jalan对话。

“Serangan militer yang dilakukan secara sepihak tanpa adanya pengesahan dari Dewan Keamanan PBB tak sesuai dengan aturan hukum internasional yang tertulis di Piagam PBB,”ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri,Arrmanatha Nasir ketika memberikan keterangan pers di Kemlu pada Jumat,4月7日。

Bagi Indonesia,kata Arrmanatha,perdamaian dan situasi yang stabil di Suriah hanya bisa dicapai melalui dialog dan praoses politik inklusif。 Tetapi,itu butuh dukungan dari semua pihak untuk melakukan setidaknya empat hal yakni menahan diri dan menghentikan semua tindak kekerasan,menghormati dan melindungi Hak Asasi Manusia(HAM),menyelesaikan konflik melalui negosiasi dan diplomasi serta terus membuka akses kemanusiaan ke Suriah。

“印度尼西亚juga mendesak agar Dewan Keamanan PBB mengambil langkah cepat untuk mencari solusi dari krisis di Suriah,”tutur Arrmanatha。

Korban tewas akibat serangan gas kimia diprediksi sudah mencapai 86 orang。 Sebanyak 11 orang di antaranya anak-anak。

Sikap sepihak Negeri Paman Sam dalam isu di Suriah sebenarnya sudah disampaikan oleh Duta Besar AS di PBB,Nikki R. Haley,ketika menghadiri sidang darurat Dewan Keamanan PBB pada Kamis kemarin。

“Saat PBB secara terus menerus gagal memenuhi tugasnya untuk bertindak bersama-sama,maka akan ada saatnya di mana kami dipaksa untuk mengambil tindakan sendiri,”ujar Haley。

Dan ancaman itu terbukti hari ini。 Walaupun kebijakan特朗普tersebut dikritik oleh Rusia,namun tidak sedikit pemimpin dunia yang mendukungnya。 Dimulai dari Perdana Menteri Jepang,Shinzo Abe,Kanselir Jerman,Angela Merkel,Raja Saudi hingga ke Presiden Uni Eropa。

Bahkan,pujian juga datang dari para pengungsi Suriah yang sebelumnya mengecam kebijakan pembatasan pengungsi dan warga Muslim ke Tanah Negeri Paman Sam。 - Rappler.com