文章
  • 文章
国际

Melawan saat ditangkap,Densus 88 tembak terduga teroris Banten

2017年3月23日下午5点34分发布
2017年3月23日下午5:34更新

DITEMBAK。 Anggota Densus 88 Anti Teror menembak dua terduga teroris karena melawan saat akan ditangkap。 Satu di antaranya tewas saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit。 Ilustrasi oleh Rappler

DITEMBAK。 Anggota Densus 88 Anti Teror menembak dua terduga teroris karena melawan saat akan ditangkap。 Satu di antaranya tewas saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit。 Ilustrasi oleh Rappler

雅加达,印度尼西亚 - Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap empat terduga teroris di Banteng pada Kamis,23 Maret sekitar pukul 12:00 WIB。 Satu di antaranya terpaksa ditembak mati karena berusaha membahayakan nyawa anggota Densus。

Menurut Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri,Brigjen Rikwanto mengatakan Densus mengendus aktivitas keempat terduga teroris sudah cukup lama。 Keempat terduga teroris diketahui bernama Achmad Supriyanto,Icuk Pamulang,Ojid Abdul Majid dan Nanang Kosim。 Mereka berangkat dengan menggunakan mobil Toyota Avanza dari arah Anyer。

“Setibanya di Ciwandan,mobil tersangka melambat sehingga petugas mengambil kesempatan untuk menghentikan mobil mereka,”ujar Rikwanto pada Kamis,23 Maret di Jakarta。

Kendaraan yang ditumpangi Achmad Supriyanto dan Icuk Pamulang langsung berhenti dan menyerah sehingga dapat langsung ditangkap。 Situasi berbeda dialami anggota Densus 88 ketika berupaya menghentikan Nanang dan Ojid。 Alih-alih berhenti,mereka malah terus menginjak脚踏气体dan berniat menabrak anggota Densus。

Petugas terpaksa memuntahkan timah panas ke arah mobil yang ditumpangi keduanya。 Ojid mengalami luka di bagian tangan,sedangkan nyawa Nanang tidak dapat diselamatkan。

“Dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit,”kata Rikwanto。

Dia mengatakan dari tangan keempatnya ditemukan barang bukti berupa senjata api。 Sementara,soal bukti lainnya,Rikwanto mengaku belum menerima laporan。

Terduga teroris yang tewas,Nanang disebut Rikwanto pernah mengikuti pertemuan organisasi Jamaah Anshorut Daulah(JAD)di Batu Malang pada 2015年11月20日至25日。

“Nanang merupakan pengajar teknik persenjataan,”tuturnya。

Nanang diketahui juga pernah merencanakan pelatihan militer di Halmahera yang akan dijadikan sebagai basis pelatihan militer kelompok JAD Poso。 Dia juga diduga bersama Fajrun melakukan latihan untuk membuat bom di Gorontalo pada tahun 2016。

“Nanang ikut mengetahui dan menyembunyikan Andi Bakso,pelaku bom di Gereja Samarinda。 Terakhir,dia membeli senjata M16 untuk kelompok Anshor Daulah yang sudah direncanakan sejak 2015 lalu,“katanya。 - Rappler.com