文章
  • 文章
国际

Paus Fransiskus tunjuk Romo Robertus jadi Uskup Agung三宝垄

2017年3月20日下午12:13发布
2017年3月20日下午12:13更新

Romo Robertus Rubiyatmoko ditunjuk sebagai Uskup Agung Kota Semarang.Foto oleh Fariz Fardianto / Rappler

Romo Robertus Rubiyatmoko ditunjuk sebagai Uskup Agung Kota Semarang.Foto oleh Fariz Fardianto / Rappler

SEMARANG,印度尼西亚 - Paus Fransiskus sebagai pemimpin jutaan umat Katolik di seluruh dunia telah resmi menunjuk Romo Robertus Rubiyatmoko sebagai Uskup Agung untuk Kota Semarang,pada Sabtu malam 18 Maret。 Romo Rubi,begitu ia akrab disapa,menggantikan Monsinyur Johannes Pujasumarta yang wafat akibat sakit kanker paru-paru pada 2015年11月silam。

Penunjukan Romo Rubi diperkuat oleh surat salinan yang diterbitkan organisasi dewan gereja Indonesia serta pernyataan Paus Fransiskus yang disiarkan jaringan radio yang berpusat di Kota Vatikan。

Romo Rubi mengaku tidak terlalu terkejut dengan penunjukannya sebagai Uskup Agung Semarang。 Sebab,sejak jauh-jauh hari dirinya sudah dipersiapkan oleh Vatikan menjadi pemimpin umat Katolik di Kota Lumpia。

“Saya mulai memahami situasinya sejak 4 Maret kemarin.Saya punya feeling sangat kuat bila sayalah yang ditunjuk.Makin dekat dengan jadwal penunjukan,saya semakin gelisah dan susah tidur.Namun,puji Tuhan setelah berdoa sentirian di Kapel Kedutaan Vatikan,saya lalu meneguhkan hatin untuk siap menerima jadi Uskup Agung,“kata Romo Rubi kepada Rappler,Minggu pagi 19 Maret。

Ia mengatakan meski telah menjadi romo di Keuskupan Agung Semarang(KAS)selama 25 tahun,tapi hatinya terus bergejolak tatkala menerima mandat jadi Uskup agung yang baru。 Monsinyur Suharyo selaku Ketua Dewan Gereja印度尼西亚bahkan harus menguatkan hatinya bila dirinya harus siap jadi gembala bagi umat katolik。

“Dalam batin,saya berucap'sendiko dawuh dalem jika terjadi maka terjadilah kehendak-Mu'.Begitu tersiar pengumuman dari Vatikan,jemaat gereja saya di Kentungan menyambut haru dan bersuka cita,walaupun disisi lain saya terbayangkan beban berat yang harus dipikul kelak,”ungkapnya 。

Soroti pernikahan beda agama dan LGBT

Seusai ditunjuk jadi Uskup Agung Semarang,Romo Rubi pun pada Minggu pagi memulai kunjungan perdananya dengan menyapa umat Katolik di Gereja Santo Petrus Sambiroto Kecamatan Tembalang Semarang。

Setelah misa,ia menggelar seminar yang membahas seluk-beluk pernikahan sesuai hukum gereja Katolik。 Menurutnya seperti hukum agama lainnya,prosesi pernikahan beda agama sebenarnya juga dilarang dalam ajaran Katolik。 Pasalnya,ia berpendapat pasangan berbeda agama nantinya akan kerepotan menjalani biduk rumah tangga di masa depan。

“Meski pihak gereja tetap mengakomodir perkawinan baik dengan non baptis maupun dengan Kristen.Tapi pada dasarnya memang dilarang karena saat menjalaninya akan susah,”ujarnya。

Terlebih lagi,katanya,di Indoneia juga belum bisa memberikan layanan yang maksimal pasangan beda agama。 Akibatnya,banyak orang Indonesia yang memilih lari ke luar negeri demi melangsungkan pernikahan berbeda dan balik lagi ke tanah air hanya untuk mencatatkan namanya di Dinas Kependudukan Sipil。

“Itu sangat tidak sehat。印度尼西亚sebagai negara multikultural semestinya menempatkan perbedaan agama dalam perkawinan yang penuh warna.Sehingga tiap warganya dapat hidup rukun damai dan rumah tangganya langgeng,”sambungnya lagi。

Perkawinan kaum LGBT tak luput dari sorotannya。 Dihadapan jemaat Gereja Santo Petrus,ia tegas menyatakan pihak gereja tidak menolak LGBT,karena mereka merupakan umat Allah yang layak diberi tempat yang sepasan dalam berkiprah ditengah masyarakat。

“Terkadang mereka terlahir seperti itu.Kita tidak boleh menolak mereka.Tapi kalau soal hukum perkawinan,gereja Katolik masih belum mengiyakan.Secara psikologis mereka tidak bisa hidup berdampingan dengan manusia lainnya,”paparnya。

Lesbi dan homoseksual,ia menuturkan tak akan bisa menikah secara resmi mengingat orientasi seksualnya yang berbeda。

Sebagai orang yang telah lama berkecimpung di Kesukupan Agung,ia juga menjawab setiap tantangan tatkala menjabat sebagai Uskup Semarang。 Di internal gereja,dirinya bakal meningkatkan keteguhan iman tiap jemaatnya agar eksistensi umat Katolik bisa tetap terjaga。

“Saya rasa yang paling tepat melakukan pembinaan iman berjenjang mulai anak kecil sampai yang sudah kakek nenek.Dengan begitu,maka kita tidak perlu bertindak ekstrem saat berinteraksi dengan umat agama lainnya,melainkan bisa meresapi hidup beragama layaknya garam yang ditabur dalam makanan pasti rasanya enak, “terangnya。

Sambut kongres 2017年AYD

Romo Rubi merupakan Uskup Agung yang masih bekerja sebagai dosen。 Ia masih mengajar Jurusan Moral dan Hukum Gereja Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta。

Ia yang tinggal di Gedung Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta akan menyelesaikan pekerjaannya sebagai dosen dan ahli hukum kegerejaan sembari menunggu penasbihan dirinya 3 bulan ke depan。

“Saya balik ke Yogyakarta dulu buat menyelesaikan tugas mengajar,mendampingi tesis dan menuntaskan kasus di Pengadilan Gereja DIY.Setelah itu,saya mengawal kongres Asian Youth Day(AYD)di Semarang pada Juli 2017,”bebernya。

Keberadaannya sebagai Uskup Agung yang baru juga jadi kado terindah saat AYD dihelat Juli-Agustus nanti。 AYD 2017 akan dijadikan titik balik untuk merubah paradigma Orang Muda Katolik menjadi bentara-bentara kasih yang menyejukan dunia。

三宝垄adalah kota多文化。 Sehingga,pemuda Katolik harus mampu menjadi kaum pluralis yang inklusif dengan melibatkan umat agama lain saat kongres berlangsung。

AYD rencananya akan dihadiri Paus Fransiskus。 Karenanya,2.000 pemuda Katolik bakal digerakan untuk melibatkan umat lintas agama lainnya。 “Saya sudah menyiapkan rencana penyambutan jika Paus datang ke sini atauapun tidak jadi datang.Pemuda Katolik akan semakin inklusif untuk perdamaian dunia,”tegasnya。 -Rappler.com